Jumat, 11 November 2011
Minggu, 06 November 2011
PERAN ULAMA YANG KIAN SULIT
PERAN ULAMA YANG KIAN SULIT
( Oleh : Muhammad Mukhlis * )
Islam termasuk agama yang mementingkan sejarah. Al-Quran berisi kisah-kisah sejarah para nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman. Islam pun melahirkan banyak sejarahwan ternama hingga kemudiaan musuh-musuh Islam berusaha melenyapkan jejak sejarah ini, baik berupa catatan fisik maupun melalui serangkaian serangan pemikiran ( ghowzul fikr ) sehingga generasi-generasi muda islam melupakan sejarah masa lalu, sejarah para nabi, sejarah Rasulullah SAW, dan para sahabat, bahkan sejarah-sejarah perjuangan kaum muslim pada abad modern.
Sejarah itu sendiri takkan pernah hilang. Namun, catatan sejarah sangat mungkin hilang, sengaja dilenyapkan atau dilupakan, dan secara sadar atau tidak sadar dapat pula tidak kita pedulikan. Begitu pentingnya sejarah sehingga beberapa bangsa besar di dunia ini belajar dari sejarah dan berupaya menggali sejarah masa lalu nenek moyangnya, bahkan mereka pun berusaha menggali sejarah bangsa-bangsa lain.
Sejarah mencacat perjuangan para ulama dalam kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah penting. Ulama sebagai tempat bertanya masyarakat, kata-katanya didengarkan dan ditaati. Sikap mereka menjadi penutan bagi yang lain, dan bahkan saat merebut kemerdekaan merekalah sebagai pengeraknya. Ulama secara totalitas mereka memberikan peran, mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk Indonesia merdeka.
Dalam perjuangan ulama dan santri selaku pengikut setianya memasuki abad ke-20 Masehi dihadapkan kepada turunnya rahmat Allah Yang Mahakuasa, yakni berakhirnya penjajahan politik atas bangsa dan negara Indonesia. Perang dunia II tahun 1939-1945 M dan Perang Asia Timur Raya tahun 1941-1945 M, perang antarnegara imperialis Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Sekoetoe-alied Forces yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Rusia, Inggris dan Perancis melawan imperialis Barat dan Timur yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Poros – Axis Pact. Mereka di pimpin oleh Jerman, Italia, dan Jepang. Dampaknya, bangsa dan negara Indonesia yang baru terbebas dari penjajahan Kerajaan Protestan Belanda, ditandai dengan adanya Kapitulasi Kalijati Subang, 8 Maret 1942. Kemudian, menyusul terbebas dari penjajahan Kekaisaran Shinto Jepang yang ditandai dengan menyerahnya Jepang kepada Sekoetoe, 14 Agustus 1945, ikuti dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Proses terbebasnya dari penjajahan politik Barat dan Timur merupakan puncak keberhasilan perjuangan Ulama dan Santri yang berlangsung sejak 1511 M.
Peran ulama yang sangat besar, dalam melawan penjajahan, merebut kemerdekaan, merumuskan negara ini, sampai mempertahankan kemerdekaan ulama selalu mengambil bagian. Keberadaan ulama sangatlah diperhitungkan, betapa besar dan sulitnya perjuang ulama dan santri saat itu, semoga semangat tersebut terus ada bersama generasi muda penerus bangsa ini.
Sekarang perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara telah berbeda. Melalui bahasa dan aktivitas niaga, umat islam setor uangnya ke investor asing atau pemilik modal asing atau ke bank asing. Terlihat dalam usahanya memperkuat posisi imperialisme ekonomi modern yang mencekeram market-pasar, dan raw material-bahan mentah serta karyawan sebagai tenaga kerja kontrak. Penjajah gaya baru dengan membangkitkan gaya hidup mewah – hedonisme. Posisi bahasa Indonesia pun dalam language war – perang bahasa, tergusur dengan bahasa niaga asing atau bahasa Inggris.
Pola tanam berganti dengan tanaman hias. Sawah mulai menghilang, irigasi untuk sawah hancur, terhadang oleh komplek perumahan dan peruntukan perindustrian. Petani terbebani, pajak bumi dan bangunan, lahan sawah dijual. Berubah menjadi buruh tani yang tak memiliki sawah dan lahan pertanian lagi. Sawahnya berubah menjadi lapangan golf atau sarana olah raga lainnya. Apa jadinya bila food as weapon – makanan sebagai senjata, sedangkan isi perut bangsa, beras, buah, sayuran bergantung dari luar negeri. Sembako pun dikuasi oleh modal asing.
Modernisasi melahirkan defamiilialization – dafamilialisasi, dengan pengertian keluarga yang tidak lagi hidup di bawah satu atap. Ayah, ibu dan anak hidup berbeda kota. Terpisah oleh kepentingan kerja dan sekolah. Budaya kota melahirkan rasa saling keterasingan. Walaupun nama di dada baju seragam orang dijumpainya, dapat dibaca tetapi saling tidak kenal. Budaya kota menjadikan manusia kota terbelah fragmentasi. Budaya gotong royong di desa pun mulai melemah, akibat pengembangan tata kota dengan sistem pemilihan tanah pembangunan perumahan loncat katak masuk ke pedesaan. Hampir dikatakan budaya desa – rural cultuire mulai terkikis secara cepat, dengan terbukanya teknologi informasi, tv, handphone, dan yang lainnya yang meniadakan jarak dan waktu. Terjadilah rapid social change – perubahan sosial yang sangat cepat.
Ulama dihadapkan dengan tantangan yang semakin rumit. Tidak hanya semakin terpecah belahnya kepemimpinan umat dalam keragaman wadah partai poltik. Namun juga, munculnya berbagai aliran agama dengan nama Islam, tetapi ajarannya mengkafirkan sesama muslim, bila tidak mau bergabung menjadi anggotanya. Misalnya Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia – LDII, dan sejenisnya. MUI dan Departemen Agama tidak akan menilai sebagai aliran sesat, bila tidak memakai nama sama dengan nama agama yang sah. Kemudian, digunakan untuk kepentingan politik, membelah kerukunan umat beragama.
Ulama pun merasa prihatin sedalam-dalamnya terhadap perubahan tatanan kehidupan nasional yang berdampak menimbulkan keresahan kejiwaan yang meluas. Salah satu peran yang dilakukan oleh ulama, sebut saja dari ustadt Arifin Ilham mengajak umat agar memohon perlindungan dan petunjuk dari Allah Yang Mahakuasa dengan Zikir Bersama. Hanya dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya akan menumbuhkan kedamaian batiniah. Secara politis, gerakan Zikir Bersama sebagai salah satu upaya keagamaan yang positif dalam menciptakan situasi damai dan tenteram.
* Wakil Presiden Mahasiswa
Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) UIN Suska Riau
Asal Kecamatan Kubu - Rokan Hilir
Langganan:
Komentar (Atom)