Kamis, 29 Desember 2011
Kamis, 22 Desember 2011
Jumat, 11 November 2011
Minggu, 06 November 2011
PERAN ULAMA YANG KIAN SULIT
PERAN ULAMA YANG KIAN SULIT
( Oleh : Muhammad Mukhlis * )
Islam termasuk agama yang mementingkan sejarah. Al-Quran berisi kisah-kisah sejarah para nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman. Islam pun melahirkan banyak sejarahwan ternama hingga kemudiaan musuh-musuh Islam berusaha melenyapkan jejak sejarah ini, baik berupa catatan fisik maupun melalui serangkaian serangan pemikiran ( ghowzul fikr ) sehingga generasi-generasi muda islam melupakan sejarah masa lalu, sejarah para nabi, sejarah Rasulullah SAW, dan para sahabat, bahkan sejarah-sejarah perjuangan kaum muslim pada abad modern.
Sejarah itu sendiri takkan pernah hilang. Namun, catatan sejarah sangat mungkin hilang, sengaja dilenyapkan atau dilupakan, dan secara sadar atau tidak sadar dapat pula tidak kita pedulikan. Begitu pentingnya sejarah sehingga beberapa bangsa besar di dunia ini belajar dari sejarah dan berupaya menggali sejarah masa lalu nenek moyangnya, bahkan mereka pun berusaha menggali sejarah bangsa-bangsa lain.
Sejarah mencacat perjuangan para ulama dalam kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah penting. Ulama sebagai tempat bertanya masyarakat, kata-katanya didengarkan dan ditaati. Sikap mereka menjadi penutan bagi yang lain, dan bahkan saat merebut kemerdekaan merekalah sebagai pengeraknya. Ulama secara totalitas mereka memberikan peran, mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk Indonesia merdeka.
Dalam perjuangan ulama dan santri selaku pengikut setianya memasuki abad ke-20 Masehi dihadapkan kepada turunnya rahmat Allah Yang Mahakuasa, yakni berakhirnya penjajahan politik atas bangsa dan negara Indonesia. Perang dunia II tahun 1939-1945 M dan Perang Asia Timur Raya tahun 1941-1945 M, perang antarnegara imperialis Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Sekoetoe-alied Forces yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Rusia, Inggris dan Perancis melawan imperialis Barat dan Timur yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Poros – Axis Pact. Mereka di pimpin oleh Jerman, Italia, dan Jepang. Dampaknya, bangsa dan negara Indonesia yang baru terbebas dari penjajahan Kerajaan Protestan Belanda, ditandai dengan adanya Kapitulasi Kalijati Subang, 8 Maret 1942. Kemudian, menyusul terbebas dari penjajahan Kekaisaran Shinto Jepang yang ditandai dengan menyerahnya Jepang kepada Sekoetoe, 14 Agustus 1945, ikuti dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Proses terbebasnya dari penjajahan politik Barat dan Timur merupakan puncak keberhasilan perjuangan Ulama dan Santri yang berlangsung sejak 1511 M.
Peran ulama yang sangat besar, dalam melawan penjajahan, merebut kemerdekaan, merumuskan negara ini, sampai mempertahankan kemerdekaan ulama selalu mengambil bagian. Keberadaan ulama sangatlah diperhitungkan, betapa besar dan sulitnya perjuang ulama dan santri saat itu, semoga semangat tersebut terus ada bersama generasi muda penerus bangsa ini.
Sekarang perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara telah berbeda. Melalui bahasa dan aktivitas niaga, umat islam setor uangnya ke investor asing atau pemilik modal asing atau ke bank asing. Terlihat dalam usahanya memperkuat posisi imperialisme ekonomi modern yang mencekeram market-pasar, dan raw material-bahan mentah serta karyawan sebagai tenaga kerja kontrak. Penjajah gaya baru dengan membangkitkan gaya hidup mewah – hedonisme. Posisi bahasa Indonesia pun dalam language war – perang bahasa, tergusur dengan bahasa niaga asing atau bahasa Inggris.
Pola tanam berganti dengan tanaman hias. Sawah mulai menghilang, irigasi untuk sawah hancur, terhadang oleh komplek perumahan dan peruntukan perindustrian. Petani terbebani, pajak bumi dan bangunan, lahan sawah dijual. Berubah menjadi buruh tani yang tak memiliki sawah dan lahan pertanian lagi. Sawahnya berubah menjadi lapangan golf atau sarana olah raga lainnya. Apa jadinya bila food as weapon – makanan sebagai senjata, sedangkan isi perut bangsa, beras, buah, sayuran bergantung dari luar negeri. Sembako pun dikuasi oleh modal asing.
Modernisasi melahirkan defamiilialization – dafamilialisasi, dengan pengertian keluarga yang tidak lagi hidup di bawah satu atap. Ayah, ibu dan anak hidup berbeda kota. Terpisah oleh kepentingan kerja dan sekolah. Budaya kota melahirkan rasa saling keterasingan. Walaupun nama di dada baju seragam orang dijumpainya, dapat dibaca tetapi saling tidak kenal. Budaya kota menjadikan manusia kota terbelah fragmentasi. Budaya gotong royong di desa pun mulai melemah, akibat pengembangan tata kota dengan sistem pemilihan tanah pembangunan perumahan loncat katak masuk ke pedesaan. Hampir dikatakan budaya desa – rural cultuire mulai terkikis secara cepat, dengan terbukanya teknologi informasi, tv, handphone, dan yang lainnya yang meniadakan jarak dan waktu. Terjadilah rapid social change – perubahan sosial yang sangat cepat.
Ulama dihadapkan dengan tantangan yang semakin rumit. Tidak hanya semakin terpecah belahnya kepemimpinan umat dalam keragaman wadah partai poltik. Namun juga, munculnya berbagai aliran agama dengan nama Islam, tetapi ajarannya mengkafirkan sesama muslim, bila tidak mau bergabung menjadi anggotanya. Misalnya Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia – LDII, dan sejenisnya. MUI dan Departemen Agama tidak akan menilai sebagai aliran sesat, bila tidak memakai nama sama dengan nama agama yang sah. Kemudian, digunakan untuk kepentingan politik, membelah kerukunan umat beragama.
Ulama pun merasa prihatin sedalam-dalamnya terhadap perubahan tatanan kehidupan nasional yang berdampak menimbulkan keresahan kejiwaan yang meluas. Salah satu peran yang dilakukan oleh ulama, sebut saja dari ustadt Arifin Ilham mengajak umat agar memohon perlindungan dan petunjuk dari Allah Yang Mahakuasa dengan Zikir Bersama. Hanya dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya akan menumbuhkan kedamaian batiniah. Secara politis, gerakan Zikir Bersama sebagai salah satu upaya keagamaan yang positif dalam menciptakan situasi damai dan tenteram.
* Wakil Presiden Mahasiswa
Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) UIN Suska Riau
Asal Kecamatan Kubu - Rokan Hilir
Senin, 19 September 2011
UIN SUSKA : MENUJU KAMPUS ISLAMI MADANI ( 41 Tahun Kampus UIN Suska Berdiri )
Oleh : Muhammad Mukhlis *
Tidak ada manusia yang tidak merindukan ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan. Semua kita ingin segera mengapainya, walaupun itu ada di depan kita. Namun tidak semudah itu mendapatkannya. Tidak hanya manusia atau individu yang mendambakan hal tersebut, tetapi suatu kelompok atau wadah juga mempunyai tujuan dan impian yang sama. Membawa perubahan yang lebih maju merupakan cita-cita bersama bangsa dan negara ini. Melalui salah lembaga pendidikan tinggi yang ada di Indonesia, terus berubah untuk maju. Sebagai motto dari kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Kampus ini kita kenal dahulu adalah Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Sultan Syarif Qasim Pekanbaru didirikan pada tanggal 19 September 1970 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 194 Tahun 1970 yang diresmikan oleh Menteri Agama RI K.H.Ahmad Dahlan berupa penandatanganan piagam dan pelantikan Rektor yang pertama, Prof. H. Ilyas Muhammad Ali. Dinamika kampus terus berjalan, untuk mengembangkan kampus ini berbagai upaya dilakukan. Dikembangkanlah status pendidikan dari Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Sultan Syarif Qasim Pekanbaru yang secara resmi dikukuhkan berdasarkan peraturan Presiden RI nomor 2 Tahun 2005 tanggal 4 Januari 2005 tentang perubahan IAIN Suska pekanbaru Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim ( UIN SUSKA ) Riau dan diresmikan pada tanggal 9 Februari 2005 oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Civitas akademika Universitas Islam Negeri Sultan Syaruf Kasim Riau sudah berazam untuk mengembangkan lembaga pendidikan ini menjadi perguruan tinggi islam terkemuka di Asia Tenggara. Visi UIN Suska Riau yaitu : ” Mewujudkan Universitas Islam Negeri sebagai lembaga pendidikan tinggi utama yang mengembangkan ajaran Islam, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni secara integral di kawasan Asia Tenggara Tahun 2013 ”. Upaya mewujudkan visi UIN Suska menjadi sangat strategis karena terletak di ibukota provinsi Riau, juga didukung oleh kondisi geografis Riau yang terletak sangat dekat dengan beberapa Negara ASEAN sebagian penduduknya beragama islam, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei Darussalam. Posisi ini telah menarik perhatian warga Negara tersebut untuk melanjutkan pendidikannya ke UIN Sultan Syarif Kasim Riau ini. Dapat dilihat dari kecenderungan jumlah mahasiswa luar negeri yang semakin bertambah setiap tahun.
Kampus ini telah berusia 41 tahun, bukan usia muda lagi. Rencana pengembangan Universitas Islam Negeri Sultan Syaruf Kasim Riau Menuju ” World Class University ” Universitas kelas Dunia, ini merupakan terobosan baru dan diharapkan dapat menjadi impian kita bersama dengan tekad yang kuat untuk mengwujudkannya. Hal ini telah dimulai dari perubahan IAIN menjadi UIN. Pembangunan dan pengembangan UIN Suska Riau dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan hampir di semua bidang.
Saat ini UIN Suska telah memiliki 17 gedung dari 34 gedung yang direncanakan dalam master plan Universitas Islam Negeri Sultan Syaruf Kasim Riau. Implemantasi dari Master Plan dimulai dengan dukungan dana baik yang bersumber dari The Government of Indonesia (GOI), yaitu APBN/APBDdan secara Internasional dari bantuan Islamic Development Bank (IDB). UIN Suska Riau memiliki 8 fakultas, yaitu : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, dan Fakultas Pertanian dan Peternakan. Gedung rektorat dengan lima lantai yang mewah, Puskom yang canggih, pustaka yang besar dengan jumlah buku lebih 100.000 exsemplar, labor-labor yang lengkap, Pusat kegiatan mahasiswa ( PKM ) yang menampung lebih 8000 orang, di tambah lagi dengan Islamic Center yang telah siap digunakan, di gerbang masuk telah di sambut dengan taman yang indah bersimbolkan tulisan IQRA’, dan banyak lagi bangun lain yang sedang dalam proses pembangunan seperti Masjid Kampus yang sedang dalam pembangunan tiga lantai sebagai masjid kampus yang terbesar di Indonesia.
Dengan beberapa alasan tersebut, Perjalanan kampus dengan berbagai macam usaha, rintangan dan cobaan senantiasa menemani segala langkah perjuangan ini. Universitas Islam Negeri Sultan Syaruf Kasim Riau selayaknya dikembangkan menjadi pusat kecemerlangan (center of excellence) umat islam di Asia Tenggara yang diharapkan mampu menghasilkan SDM Muslim berkualitas yang dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada pasar global yang semakin kompetitif dan sekaligus dapat mengaktualisasikan nilai-nilai islami dalam lingkungan kerjanya dan masyarakat internasional.
Untuk mewujudkan cita-cita ini haruslah dimulai dari pribadi-pribadi muslim yang tangguh. Dikalangan civitas akademika UIN Suska tidak asing terdengar lagi bahwa UIN Suska adalah kampus islami madani. Memang kampus ini adalah islam, tetapi apakah telah madani. Kampus islami madani apakah hanya identik dengan simbol-simbol islami, pakaian islam, banyaknya buku-buku islami, gedung-gedung khas islami, juga Muslim telah menjalankan ibadah dengan baik, bukan hanya sekedar hal tersebut, tetapi lebih mendalam dari itu.
Kampus Islami Madani adalah kampus impian kita bersama. Dimana lingkungannya yang penuh dengan nilai islam didalamnya, ketika islam bisa diterima oleh semua orang. Islam telah menjadi sistem sosial dari kehidupan kampus seperti sistem keuangan yang bersifat islami. Adanya pembudayaan nilai-nilai islam kepada seluruh civitas akademika, ketika semua mahasiswa memaknai menuntut ilmu secara syamil. Kampus madani bukan berarti kita mendoktrin Islam secara paksa, adanya sebuah kebutuhan dan keinginan dari para civitas untuk mengenal Islam dengan kesadaran diri. Pada akhirnya bila islam kita yakini yang terbaik, Islam dapat menjadi pemersatu dari semua pemikiran yang ada. Para da’inya dapat menjadi teladan dan panutan dalam kepemimpinan islam di kampus.
Sebenarnya di kampus UIN Suska sejak awal berdiri telah mensyiarkan ini. Saat ini dapat kita lihat salah satunya dengan berdirinya Ma’had Al-Jami’ah UIN Suska Riau. Sebuah lembaga di lingkup Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang dibentuk dalam rangka mempersiapkan mahasiswa yang memiliki nilai integritas ilmu, amal dan akhlak yang berkualitas dan memiliki nilai strategis yang dibutuhkan masyarakat. Ma’had Al-Jami’ah sebagai pengelola Mahasiswa UIN yang tinggal di Asrama UIN Suska, dengan suatu ilmiah religius, yang menyiapkan mereka menjadi dai’ dan panutan di kampus ini. Nuansa ilmiah yang diperoleh dari kajian-kajian yang diadakan pada setiap malam dan subuhnya, nuansa akademik yang dirasaka ketika belajar bersama-sama dengan teman-teman dari berbagai fakultas, hafalan dan kegiatan pengembangan bahasa, minat dan bakat mahasiswa.
Banyak program-program lain yang terus dikembangkan dikampus ini guna kemajuan kampus, SDM mahasiswa. Kampus islami madani yang di dambakan, tidak akan terwujud jika ini hanya di ucapkan saja. Harus ada sinergi dan keinginan kita bersama untuk mengwujudkannya yang di mulai dari pribadi masing-masing. Mahasiswa komponen yang tak bisa di lepaskan dari maju atau mundurnya kampus, bahkan bangsa ini. Peran semua civitas akademika kampus UIN Suska sangat di nantikan, agar lembaga ini menjadi dambaan semua orang. Bagaimana peradaban di kampus UIN Suska Riau yang melahirkan generasi yang berkepribadiaan dengan intelektual nantinya membawa peradaban bangsa ini. Yakinlah saudara ku, keberadaan kampus islami madani adalah salah satu langkah untuk mewujudkan Indonesia yang madani.
* Wakil Presiden Mahasiswa
Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) UIN Suska Riau
Asal Kec. Kubu-Kab. Rokan Hilir
Langganan:
Komentar (Atom)